Jangan Salah Kaprah dengan #ProNgopi!

Alhamdulillah, akhirnya kemarin (6/3/2016), blog ini berhasil saya luncurkan. Blog ini, dibuat atas inspirasi dari kebiasaan nongkrong di warung-warung kopi. Setelah mencermati kebiasaan, kiranya rugi, bila momentum kumpul-kumpul hanya dihabiskan, tanpa 'selembar' karya pun dihasilkan.

Hasruddin Jaya: Isu Buruk IM-BUTUR di Medsos Tidak Benar!

Menurutnya, isu yang beredar di media sosial terkait dengan paguyuban IM-BUTUR yang diposting oleh pemilik akun bernama "Yang Baru" yang menjelek jelekan Pengurus IM-BUTUR, itu hanya provokasi yang bisa memecah belah mahasiswa Buton Utara.

Mau Ngopi? Warkop Ini Sajikan 12 Jenis Kopi Asli Indonesia..

Yang paling mulia, warkop ini mengusung misi tingkat tinggi buat pengunjungnya. Yakni; "Kami mengutamakan kwalitas kopi, tempat boleh biasa, kopinya yang luar biasa Warkop Demen".

Tampilkan postingan dengan label Coret-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coret-coret. Tampilkan semua postingan

(JUFRA UDO) Kekuatan Petahana

Sebenarnya, sejauh ini belum ada konsep yang pasti soal petahana. DPR pun masih sibuk untuk merevisi UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah, konsep petahana masuk dalam poin penting agenda revisi. Kendati demikian, perlu diingat juga, terma-terma politik telah membiasa di bawah sadar, dan itu sulit dilepaskan.

Seperti itu pula pemaknaan petahana, yakni seorang kepala daerah yang maju ke kontestasi untuk kedua kalinya. Lepas dari UU, apakah makna itu masih berlaku atau tidak? Kita tunggu saja pihak DPR yang dikabarkan siap kebut soal rencana revisi tersebut (Suara.com, 5/04/2016).

Lepas dari revisi, pilkada serentak jilid dua akan kembali digelar pada 2017 mendatang. Dan tentu, petahana akan jadi momok yang paling menantang bagi figur pendatang dalam kontestasi pilkada.

Momok itu tersebut tentu memiliki alasan-alasan. Meski terbilang klasik, alasan-alasan berikut masih saja mengena. Seperti;

Pertama, struktur birokrasi yang rapi, dan telah didisiplinkan untuk taat dan patuh pada kebijakan kepala daerah. Birokrasi yang kuat sangat dipastikan mampu memberi sumbangsih dukungan yang sistemik bagi figur incumbent.

Kedua, struktur budaya. Jika selama menjabat sebagai kepala daerah, petahana selalu menjalankan program-program yang berkaitan dengan budaya, maka akan sulit ditebas kekuatannya bagi figur pendatang. Ini dikarenakan efek sosiologisnya yang langsung menyasar paradigma akar rumput (grass root). Budaya, seperti demikian, sulit dilawan dengan mengedepankan isu 'kejenuhan' maupun kampanye hitam atas keburukan petahana.

Ketiga, kekuatan modal. Tak ada kekuasaan yang kokoh tanpa sokongan modal yang kuat. Ini framing kuasa politik yang tidak bisa diingkari. Tetap berlaku. Dikarenakan, dunia birokrasi yang mengepankan pembangunan infrastruktur, seperti kultur pembangunan saat ini, menyisakan pundi-pundi yang gemuk yang acap dipersiapkan sebagai basis finansial dalam kontestasi politik. Apalagi ditunjang dengan sikap koruptif bagi petahana yang cenderung memperkaya diri sendiri, lewat penggemukan aset pribadi, dan modus sabotase izin usaha lawan-lawan politiknya.

Kendati demikian, faktor ketiga tak cukup dominan untuk mempengaruhi sokongan dukungan politik bagi incumbent. Terlebih bila berhadapan dengan kandidat pendatang yang disokong juga dukungan finansial yang kuat.

Dari ketiga alasan tersebut, dukungan basis finansial yang kuat bagi kandidat pendatang, tidak semestinya membuat tampil percaya diri apalagi over di gelanggang politik. Tak selamanya, kalkulasi ekonomi bisa mengimbangi perubahan politik. Sekejap saja, politik bisa berubah.

Politik menyentuh semua sisi naluriah manusia. Kekuatan jual-beli dan penawaran, jangan dipastikan bisa membaca gerak politik sebagaimana grafik saham, dan kenaikan harga sembako. Perubahan politik selalu dinamis. Kapan pun manusia berpikir untuk merubah sikap, ketika itu jua tindakan politik berubah.

Disamping, isu etnis adalah hal yang sangat konyol untuk dimainkan di medan yang sempit. Etnis bila dijadikan sebagai opini dalam medan seperti itu, sama halnya mematikan ruang opini publik. Juga dapat memantik meledaknya konflik, karena etnis menyentuh ruang privat yang amat sensitif.

Karenanya, politik mesti tampil elegan bila hendak meruntuhkan kemapanan struktur yang telah dibangun petahana. Yakni mengusung nafas perubahan dan dapat memastikan soliditas masyarakat.

Cara yang paling elegan, bisa ditempuh, dengan membentuk pos-pos dukungan sebagai bentuk legitimasi kepemilikan teritorial. Ruang gerak petahana bisa dibatasi dari sini.

Dan, hindari konflik yang melibatkan kelompok masyarakat kelas bawah. Karena bisa menjadi bumerang, dan membuat leluasa gerak politik petahana. Bermainlah dengan cara-cara yang elegan dan santun, yang penting progresnya terukur.(*)

Oleh: Jufra Udo
(Kader HMI MPO Kendari, jufraudo10@gmail.com)

Tulisan sudah dipublikasikasi zonasultra.com



Lupakan Revolusi(mu)!


Oleh: Jufra Udo

Saya hampir lupa jatuh cinta dengan revolusi. Revolusi makin sepi makna. Setidaknya itu alasan saya, secara prinsipil.

Karena mencintai revolusi, berarti memahami subtansi gerak, dan totalitasnya. Sementara penyaksian saya, revolusi kita hanya sebatas alegori, untuk tidak kebelet mengatakannya sebagai utopia. Mustahil akan terjadi, tanpa konstruk ideologi sebagai pandangan hidup yang bergerak ke arah penentangan.

Itu yang saksikan, ketika mengamati celoteh beberapa kawan yang terlanjur mendaulat diri sebagai agen revolusi.

Dalam rekayasa sosial, revolusi bisa terjadi  apabila ada keadaan tertentu yang berpihak ke arah chaos. Tempat perseteruan antara beberapa kelompok besar, dan membentuk tatanan baru. Tentunya, setelah terlebih dahulu menggusur tatanan lama dari segala sisi.

Dan munculnya reformasi, bukanlah revolusi, tetapi pergeseran kekuasaan ke orde transisi. Pada akhirnya, gestur tatanan lama masih saja membekas. Karena tidak ada totalitas dalam usungan perubahannya.

Keadaan tertentu yang mendorong terjadinya gerak revolusi tersebut,  yakni ketika ada kondisi darurat yang mendesak seluruh kelompok untuk tampil sebagai oposisi biner.

Tergabungnya beberapa kelompok yang berpengaruh vital terhadap kebijakan negara dan melakukan penentangan secara periodik, jadi prasyarat awal yang menentukan bahwasannya, setidaknya, gejala revolusi mulai menyeruak.

Bahwa kelompok pengusaha, militer, dan oposisi politik telah tergabung dalam sebuah kongsi besar. Dan kalangan intelektual, adalah pemantik yang tepat untuk menghubungkan pertemuan itu. Kenapa kalangan intelektual?

Kalangan intelektual, adalah mereka yang memiliki ketepatan legitimasi, bahkan lebih dikatakan sebagai basis ideologis dalam sebuah negara, kata Louis Althusser.

Juga Althusser meyakinkan kita, kegandrungan pada filsafat dan pemikiran progresif adalah modal utama untuk mendorongnya.

Jadi, berhentilah bicara soal revolusi, jika hanya termaktub pada "kata pembuka", dan "kata penutup". Sebab, itu bukanlah tanda keseriusan, tapi lebih pada penanda eufoni ingar dan bingar.(*)


Rasa

Tidak terlalu. Terpental, lalu kembali ke mulanya. Rasa tak ubahnya seperti itu. Tidak perlu resolusi lain. Bila gagal, tunggu ia kembali. Tak akan jauh terpental, hanya jauh jarak kembalinya.

Seberapa pun rasa berganti sajian. Entah lara, hilang asa, dan ria; tak perlu disahuti berlebihan. Tak ada rasa yang abadi. Juga tak rasa yang tak kembali.

Ia akan pulih seperti sedia kala. Menyusun puzle-puzlenya ke arah kesempurnaan. Utuh kembali.

Rasa hanya tunduk pada waktu. Dan kepada kuasa waktu pula kita menyerahkan diri. Bukan memaki diri, atau mencari kambing hitam karena rasa.

Pada waktu, rasa menyembah. Karena berhenti-lah. Usap matamu perlahan, sinar pagi telah tersenyum padamu. Sebab, setiap pagi adalah kado terindah dari waktu. Bangkitlah! Dan miliki rasamu.

Oleh: Jufra Udo


Pemimpin Baru; Berantas Tiran atau Melanjutkan? (Sebuah Pesan)


Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) adalah sosok yang paling menakutkan dalam prosesi jalannya suatu pemerintahan, sosok ini bisa menghambat laju pembangunan baik fisik maupun non fisik sehingga  sejak dini perlu diantisipasi.

Buton Utara yg mekar sejak tahun 2007 kmarin, telah banyak memberikan kita gambaran pengelolaan sistem pemerintahan mulai dari tahapan PJ hingga kepada bupati definitif.

Gambaran itu seakan berbanding terbalik dengan harapan masyarakat, amanah undang-undang dan sumpah jabatan yang diucap. tercatat banyak pejabat daerah yang  nasibnya berahir di bui (jeruji besi), keluarga lebih diutamakan tanpa melihat kualitas diri (SDM) serta pembangunan yang sifatnya tidak merata (asal membangun tanpa perencanaan yang matang) pada ahirnya kesia-siaan dan pemborosan anggaranlah yg  terjadi, yang kemudian membawa kita makin jauh dari kesejahteraan yang adil dan merata (baik fisik dan non fisik).

Pelantikan bupati dan wakil bupati terpilih tanggal 17 Februari 2016 yang dilangsungkan dengan pengambilan sumpah jabatan seakan memberi harapan baru (perubahan dan perbaikan) bagi seluruh masyarakat Buton Utara, semoga harapan itu tidak dikesampingkan oleh kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok.

Semua itu tergantung pemimpin baru kita , apakah pemimpin baru kita mau memberantas tiran ataukah ia akan melanjutkan tiran dengan gaya yang baru?

Semoga bupati dan wakil bupati yang telah dilantik oleh Gubernur Sulawesi Tenggara bisa menjalankan tugas dan kewajiban secara utuh (sesuai dengan amanah Undang-undang dan sesuai dengan sumpah jabatan yang diucap).

Diakhir tulisan ini, saya ingin berpesan kepada pempin baru Buton Utara Abu Hasan-Ramadio:

"Lihatlah rakyat, tapi bukan sekedar melihat. Bantulah rakyat, tapi bukan sekedar membantu. Mengurus rakyat bukan pilihan, karena ia adalah kewajiban seorang pemimpin" ..

Selamat bekerja bupati dan wakil bupati buton utara Abu Hasan- Ramadio!

*) Penulis: Hasruddin Jaya

Celoteh "Asam-Pedas" Ala Sarlin

Tarik ulur, maju kena mundur kena. Mencari celah menuju jalan tengah. Dalam hidup, dinamika hal biasa.

Bagaikan ngopi plus makan pisang goreng. Hidup saja bagaikan abu nawas, tak peduli banyak orang mengecam. Memang kritik dan sentilan itu wajib, untuk menentang status quo dan kejahilan yang sudah mapan.

Di zaman penuh sampah ini, menjadi nyeleneh itu baik. Urusan ibadah nda perlu diungkit-ungkit, itu wilayah privat antara aku dan Tuhanku. Jadilah seperti unta muda yg tak kuat untuk ditunggangi dan tak mudah untuk diperas. Ah, hidup ini sudah terlalu rumit, kacau, independensi harus dijadikan tameng dari godaan syaitan nyata yang terkutuk.

*Temukan profil Sarlin disini

Tugas "Berat" Jadi Blogger


Blogger. Jika menyandang status ini, ada satu beban yang cukup terasa berat. Tentunya, ketika ingin benar-benar tampil sebagai blogger yang menyeriusi blog agar terus berlanjut. Artinya, konten-konten blog selalu hidup, setidaknya ada konten-konten yang bisa dinikmati pembaca.

Mengapa demikian berat? Karena untuk menyajikan konten bukan perkejaan yang mudah. Perlu konsentrasi yang serius untuk fokus pada tulisan-tulisan blog yang bermanfaat.

Itu yang saya rasakan sejak tampil sebagai blogger pemula. Di blog ini, saya memerlukan waktu yang panjang, agar dipandang serius mengelola blog. Salah satu cara yang pernah saya tempuh, yakni memberrikan kesempatan kepada pembaca blog untuk bebas berkarya disini. 

Caranya mudah. Cukup di inbox lewat Facebook, sudah cukup diracik menjadi 'hidangan' di blog ini. Kendati demikian, agaknya kurang cukup mendapat respon bagi pembaca untuk berkarya di blog saya. Ya, meskipun begitu, tetap semangat saja menjadi blogger. Salam literasi! JF

Hadir Kosong

Waktu. Bukan sekedar pergumulan sambil lalu; detik ke menit, ke jam, lalu seterusnya. Ini soal kesemuanya, menjangkau hadir, yang kadang kita nikmati dengan kekosongan.

Dalam waktu itu, terkadang kita terlalu tergesa-gesa membuat definisi. Sesuatu, diartikan seperlunya. Yang belum tentu pula dipahami persilangan kata-makna, atau makna-kata.

Penjelasan di waktu ini, yakni soal adalah dan merupakan. Yang belum tentu jua kita jamah resikonya.

Dilain waktu itu, apa yang bakal terjadi dengan definisi buatan kita? Yang mana, definisi itu selalu kita ujudkan dengan retoris. Diajarkan pada mereka yang lebih (parah) tak pahamnya. Memang semua tengah menyajikan kekosongan hadir diantara deret kursi-kursi. (Kendari, 2016)

Tiga Media Online Sultra Sumber Rujukan versi #ProNgopi, Mau Tahu?

Era cyber yang menyeruak, hampir saja  menembus 'dinding' media-media konvesional berbasis cetak. Media online, inilah penembusnya. Media baru ini bisa memberikan kemudahan dari sisi penyebaran informasi.

Publik  tidak perlu repot lagi mencari sumber-sumber informasi hasil cetak. Cukup di klik, ratusan informasi aktual langsung terhampar di depan mata.

Juga, informasi apapun yang dibutuhkan, semua tersaji dari piranti yang terhubung dengan internet. Itu saja sedikit 'cuap-cuap' manfaat adanya media baru ini.

Di Sulawesi Tenggara pun demikian, dunia pemberitaan kita semakin ramai dengan hadirnya media online. Berikut, #ProNgopi akan merangkum 3 media online lokal yang selalu dijadikan rujukan pencarian berita versi #ProNgopi, yakni;

1. Zonasultra.com

2.Sultrakini.com

3.Kabarbuton.com

Salam #ProNgopi (*)


Jangan Salah Kaprah dengan #ProNgopi!

Alhamdulillah, akhirnya kemarin (6/3/2016), blog ini berhasil saya luncurkan. Blog ini, dibuat atas inspirasi dari kebiasaan nongkrong di warung-warung kopi. Setelah mencermati kebiasaan, kiranya rugi, bila momentum kumpul-kumpul hanya dihabiskan, tanpa 'selembar' karya pun dihasilkan. 

Karenanya, melihat banyaknya karya-karya literasi yang kerap cenderung terabaikan atau tradisi tulis-menulis yang redup, kiranya blog ini hadir untuk sebagai usaha menjawab persoalan-persoalan tersebut. Tulisan apapun dimuat di blog ini, sepanjang mengusung nilai-nilai ideal literasi yang bermanfaat, dan mengusung nafas mencerahkan.

Jadi blog #ProNgopi tidak sekedar muncul begitu saja. Dan kami jua mengusung gerakan #ProNgopi yang bermartabat, demi hidupnya aktivitas
literasi. Semoga bermanfaat, salam!

Jangan Takut Menulis!

Ambil kopi. Cari batang rokok. Lalu duduk di antara jeda dan komputer. Bagi saya, ini cukup romantik untuk mendedah narasi per narasi.
Merangkai tulisan dalam deretan kata serasa nikmat. Saya menemukan surga di dalam. Kenikmatan ide yang alang kepalang.

Diluar kenikmatanku, ada saja orang yang membicarakan itu. Penulis itu miskin, kata mereka ‘yang di luar sana’. Dan itu diarahkan padaku.

Cukup bergeming saja. Dalam kedakuanku, aku merasa belum selayaknya pantas disebut penulis. Hanya (sekedar) mencoba menulis. Tapi alamat miskin itu serasa menghantuiku. Apa boleh buat?

Barangkali tidak usah pesimis. Meski kemampuanku masih layaknya angkat cangkir kopi ini, saya sepatutnya bangga. Aku dikenal karena menulis. Dan mereka yang (hampir) akrab dengan ‘yang diluar sana’, datang menghampiri, minta ilmu menulisku yang minimalis.

Saya pun tak pelit soal itu. Hanya perlu ku usulkan, memulai menulis sama halnya memintal sepi.

Juga, memulai menulis adalah kesediaan melawan ramai. Kita mesti duduk di tempat hening. Ide memang lahir di mana saja. Gunung, pantai, bibir pacar, di mana saja. Tapi semuanya tak akan tahu, apa itu tulisan?

Tulisan itu sederet makna yang diresapi di pertapaan. Ia tidak terukir di jidat pacar. Ia bukan dekorasi di dalam pesta. Jika seperti itu anggapanmu, maka tak ubahnya kehendak menulismu ialah sejenis korpus di layar-layar komputer, kertas, dan etalase media massa. Tulisan kamu tidak akan ada disana.

Belum lagi kamu akan melawan kemiskinan, seperti kata ‘yang di luar sana’. Telingamu tentu akan panas.

Lihat saja!

Saya tetap miskin, tapi tetap menulis jua. Dalam memikir narasi se-paragraf saja, harus menghabiskan rokok puluhan batang. Menghabiskan waktu di ujung layar komputer. Juga cangkir kopi saya, sebentar lagi kutambahi air.

Siapkah kamu?

Di kala menulis, mesti fokus. Lihat saja saya. Sudah bulanan aku belajar menulis, tak kunjung juga sekaliber tulisan elit-elit itu yang rajin mangkir di media, meski kadang saya cukup tak paham maknanya.

Pun juga, menulis mengajarkan untuk tulus. Tulus berbagi yang kamu ketahui. Tulus meninggalkan masa-masa romantismu. Mesti idealis, ide menulis dimulai dari aktualisasi diri. Bukan buru royalti, ataupun popularitas. Kalau itu yang kamu cari, lagi-lagi kamu jadi korpus seperti tadi. Mati di ujung-ujung ide.

Salam takzim buat ‘yang di luar sana’. Aku memang miskin, tapi kaya waktu untuk membaca, berpikir, diskusi, dan menulis lagi! (Jf) 


*Temui saya disini  disini

Dilema Ibukota Butur; UU versus Amanah Leluhur

Polemik ibukota Kabupaten Buton Utara (Butur) telah ramai dibicarakan sejak penggagasan pemekaran kabupaten Buton Utara yakni disepakati di Ereke Kecamatan Kulisusu, ironinya setelah sampai di DPR RI draf kesepakatan itu berubah menjadi Buranga, Kecamatan Bonegunu (sebagai ibukota Kabupaten Butur).

Tarik menarik terkait pemekaran Kabupaten Buton Utara khususnya penempatan Ibukota membuat kita dan kita semua menerima Buranga, Kec. Bonegunu sebagai ibukota Kabupaten Buton Utara, yang penting kita mekar menjadi Daerah Otonom Baru dan berpisah dari Kabupaten Muna (itu lebih baik daripada tidak mekar), mekar dulu, nanti amanah leluhur difikirkan.

Puncak dari perjuangan itu, yakni tanggal 2 Januari tahun 2007 dengan dikeluarkan UU NO. 14 Thn 2007 tentang pembentukan Kab. Buton utara. UU No. 14 tahun 2007 yang merupakan dasar hukum terbentuknya kabupaten Buton Utara, dan disalah satu pasalnya menjelaskan bahwa ibukota Kabupaten Buton Utara adalah Buranga, Kecamatan Bonegunu.

Dilihat dari prosesi pelaksaanan pemerintahan sejak Buton Utara menjadi daerah otonom baru, tentu sangat jauh dan bertentangan dengan amanah UU yakni Pembangunan kantor di Buranga dihentikan dan memusatkan pembangunan perkantoran dan pemerintahan di Ereke , Kecamatan Kulisusu.

Kebijakan Pemda ini, menuai banyak polemik di kalangan masyarakat dan birokrasi pemerintahan, tercatat masyarakat Buton Utara seakan terpetak, antara masyarakat Pro Undang-Undang dan masyarakat pro Kebijakan Pemerintah (Pemda jangan jadi provokator!).

Pemusatan pembangunan dan pemerintahaan di Ereke, Kecamatan Kulisusu, bukan tanpa alasan dan dasar hukum yang kuat, mengatas namakan amanah leluhur dan ketidak-layakan buranga sebagai ibukota, maka dibuatlah Perda RTRW yang menjadi pijakan Pemerintah Daerah dalam memusatkan pembangunan dan pemerintahan di ereke kecamatan kulisusu (walau PERDA RTRW syarat akan kontroversi dan politisasi).

Penempatan Ibukota kabupaten Buton Utara merupakan persoalan yang cukup urgen dan menjadi agenda utama yang harus diselesaikan oleh Pemerintah Daerah. Agar pemerintahan berjalan dengan baik dan bisa tercipta Buton Utara Yang Aman, Berbudaya dan Religius (Visi Abu Hasan-Ramadio) dan masyarakat tidak dibuat bingun antara Buranga dan Ereke (kalau Buranga maka kita harus ke Buranga dan kalau Ereke maka kita harus ke Ereke).

Peran Komunikasi kelompok diperlukan dalam penyelesain polemik Ibukota Kabupaten Buton Utara, kemajuan Buton Utara menjadi prioritas.(*)

Oleh : Hasruddin Jaya
(Dikutip dari rancangan Proposal Penelitian S-1 Komunikasi FISIP UHO, yang berjudul "Dinamika Komunikasi Kelompok Masyarakat dan Pemerintah Dalam Upaya Penempatan Ibukota Kab. Butur)

Teh, Hujan, dan Buku

Hari ini, tak ada yang istimewa selain menyeduh teh manis, lalu duduk manis menyepul rokok batang per batang. Terasa nyaman seperti ini. Duduk menanti senja yang malas terang.

Diluar sana, petir tampak merah menjilati bumi yang enggan beranjak dari peraduannya. Yang tampak awet, dalam situasi ini, hanya tempias hujan. Sedari tadi, percik per percik begitu doyan menyahuti kilat yang berkelebat.

Bila demikian adanya, lebih baik mengurung diri saja. Sambil membolak-balik buku, bukankah ini sudah lengkap?

Ngeteh, hujan deras, dan buku; lengkap sudah! Dunia ini, pikirku, lebih santun dilayani demikian. Apa adanya. Dibanding ramai-ramai ikut gila....

Kendari, Februari 2016

*Baca tulisan lain disini

Kemana Ku Lukis Wajahmu?

Bingung.Obyek mana yang ku jadikan sebagai tempat melukis wajahmu.Entah kanvas,kain,atau papan? Disisiku hanya secangkir kopi,sebungkus rokok,dan layar komputer. 

Atau biarlah ku lukis wajahmu disetiap desiran angin.Agar engkau hadir dalam setiap arah.Biar aku lebih dekat denganmu tiap waktu.Agar ku tak lagi disiksa kerinduan.
(Jf)